Palembang, Briliannews.com — Perlombaan bidar di Sunga Musi kota Palembang merupakan tradisi kebanggaan masyarakat kota Palembang khususnya yang berada dipinggiran sungai.Lomba perahu bidar ini memiliki nilai sejarah dan keunikan budaya tinggi.
Tradisi asli Palembang ini sudah ada sejak jaman dahulu dan masih dilestarikan hingga sekarang. Bahkan Pemkot Palembang menjadikan lomba perahu bidar sebagai agenda tahunan yang diadakan setiap 17 Agustus maupun HUT Kota Palembang.
Perahu bidar yang dilombakan setiap tahunnya memiliki panjang 24 meter dengan 56 pendayung plus satu orang sebagai juragan. Lomba perahu bidar di kota Palembang sangat digemari masyarakat.
Lomba bidar yang di Sungai Musi, startnya dari jembatan Musi 6 dan finish di depan Benteng Kuto Besak Palembang.
Dalam perlombaan ini puluhan pendayung dari berbagai daerah berada di satu bidar beradu kecepatan dan daya tahan perahu bidar mana yang paling kuat kualitasnya.
Salah satu perahu bidar yang setiap tahunnya tampil adalah Tatang Putra yang dibuat ditepian sungai Musi di Jalan Pangeran Sido Ing Lautan, Lorong Palang Merah Indonesia (PMI), Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II Palembang.
Abdul Gopar (73) salah satu pengrajin perahu bidar Tata Putra mengatakan untuk membuat perahu bidar sepanjang 24 meter membutuhkan kayu sebanyak satu meter kubik kayunya jenis Merawan Serumpun yang didatangkan langsung dari Lubuklinggau.
“Proses pembuatan satu perahu bidar panjang 24 meter ini memakan waktu satu bulan penuh sampai dengan pengecatan yang dikerjakan oleh empat orang tukang dari Pedamaran OKI,”kata Abdul Gopar kepada wartawan Kamis (6/8/2026).
Nama Tatang Putra sendiri diambil dari nama kampung Tatang yang berada di Kelurahan 35 Ilir itu sendiri. Setiap tahun perahu bidar Tatang Putra selalu juara terakhir setahun yang lalu meraih juara satu.
“Musuh bebuyutan bidar Tatang Putra ini bidar Pemulutan. Setiap tahun bidar Tatang Putra ini selalu menang sudah beberapa kali juara satu,”ungkap Gopar.
Dikatakan Gopar pembuatan perahu bidar Tatang Putra dananya dibiayai dari sponsor yang ingin memakai bidar yang akan ikut lomba 17 Agustus nanti.
Biaya pembuatan satu bidar menelan biaya puluhan juta. Seperti tahun lalu di sponsori dari Dinas Perhubungan Kota Palembang begitu juga tahun ini.
“Pernah dipakai Pertamina, Pusri, pernah SDM macam macam tergantung siapa yang mau jadi sponsor. Untuk pendayungnya 55 orang semuanya dari Dusun Pedamaran OKI,”bebernya.
Satu pendayung mendapatkan honor sebesar Rp 250 ribu yang dibayarkan setelah lomba selesai. Masih dikatakan Gopar, pemilik bidar Tatang Putra bernama Jaka seorang anggota polisi yang berdinas Polsek Seberang Ulu II Palembang turun menurun dari buyut hingga neneknya.
“Bidar Tatang Putra ini hanya setahun sekali dipakai saat lomba 17 Agustus saja, tapi kalau ada yang mau memakai nya baru diturunkan tergantung siapa yang makainya,”jelasnya.
Perahu bidar Tatang Putra sendiri baru akan diturunkan ke Sungai Musi H – 1 sebelum lomba.Untuk menurunkan perahu ke Sungai tidak sembarangan hari digelar doa agar diberi keselamatan ketika nanti saat berlomba bidar.
“Ada ayam kampung empat ekor yang disajikan sama nasi ketan didoakan bersama sebagai bentuk ungkapan syukur sebelum bidar diturunkan,”tandasnya.
Sementara itu, Abdul Rahman Rustam salah satu pemain bidar Tatang Putra yang bertugas sebagai juragan atau penyemangat pendayung mengaku sejak HUT RI ke 53 tahun sudah ikut lomba perahu bidar di Sungai Musi.
“Insya allah 17 Agustus 2026 nanti saya ikut lagi lomba perahu bidar di Sungai Musi tahun kemarin bidar kami menang, tahun ini sponsornya Dishub kota Palembang semoga saja tahun ini menang lagi,”harapnya.
Hadiah juara satu tahun lalu, perahu bidar Tatang Putra mendapat piala dan uang pembinaan sebesar Rp 25 juta.
“Hadiah uang Rp 25 juta yang didapat dibagi rata ke 55 orang jadi satu orang dapat Rp 300 ribu ditambah uang honor Rp 250 ribu jari Rp 550 ribu lumayan lah,”ungkapnya.(Leo)













